KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena penulisan makalah ini
dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah
ini membahas tentang perbandingan perayaan upacara sekaten di Yogyakarta dan
Surakarta, diharapkan dapat memberi pengetahuan dan menambah wawasan bagi
siapapun yang membaca makalah ini.
Dalam
penyusunan makalah ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah
memberikan saran, maupun masukan-masukan guna penyempurnaan makalah ini. Untuk
itu kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.
Akhir
kata, kami meminta maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan.
Oleh sebab itu kami akan berupaya selalu terbuka dan seobjektif mungkin
terhadap kritik dan saran yang membangun guna mempertimbangkan di masa-masa
yang akan datang.
Perayaan Upacara Sekaten di Daerah
yogyakarta
Upacara
sekaten di daerah Yogyakarta diadakan di halaman Masjid Agung dan di Alun-alun
Utara Yogyakarta. Upacara sekaten dimulai pada malam hari dimana dua gamelan
yang akan ditabuh pada perayaan upacara sekaten dikeluarkan dari tempat
penyimpanan di Bangsal Sri Manganti oleh abdi dalem dan pasukan
keraton. Untuk mengeluarkan gamelan tersebut dilakukan suatu upacara spiritual dan
harus melaksanakan syarat untuk melakukan spritual. Konon apabila syaratnya
tidak dilaksanakan maka kedua gamelan tersebut tidak bisa bunyi sewaktu
ditabuh. Kedua gamelan tersebut adalah Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng
Kyai Nogowilogo. Seperti diketahui bahwa semua benda pusaka atau keramat yang
ada di keraton Yogyakarta akan mempunyai cerita mistik.
Gamelan
Kyai Guntur Madu ditempatkan disebelah selatan Masjid dan Kyai Notowilogo
ditempatkan disebelah Utara halaman masjid. Kedua gamelan tersebut akan
dimainkan selama upacara sekaten berlangsung. Pada siang hari sampai selesai,
sebagai rasa bersyukur atas terselenggarakannya acara sekaten maka diadakan
acara membrikan makanan dan hasil bumi yang berupa Gunungan untuk dibagikan
kepada masyarakat yang hadir di acara sekaten. gunungan tersebut terdapat 2
jenis yaitu Gunungan Jaler(laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan).
Masyarakat sampai saat ini masih percaya bahwa bagian dari gunungan tersebut
akan bisa memberikan berkah.
Perayaan Upacara Sekaten di Daerah
Surakarta Kota Solo
Perayaan
upacara sekaten di daerah Surakarta berlangsung bersamaan dengan perayaan
upacara sekaten di Yogyakarta pada bulan Maulud setiap tahunnya. Upacara
dimulai dengan mengeluarkan 2 gamelan dari tempat penyimpanan Bangsal
Srimanganti. Lalu gamelan dibawa dengan dikawal oleh para abdi dalem dan
prajurit keraton. Kalau di keraton Surakarta, kedua gamelan bernama Kyai Guntur
Madu dan Kyai Guntur Sari. Kedua gamelan diletakkan di halaman Masjid Agung
Surakarta masing-masing di sebelah Utara dan Selatan. Gamelan dimainkan selama
berlangsungnya upacara sekaten. Selama berlangsungnya upacara sekaten, banyak
sekali masyarakat dari berbagai daerah sekitar Solo, yaitu Sukoharjo, Wonogiri,
Sragen.
Upacara
sekaten di keraton Surakarta dilaksanakan bulan Maulud dari tanggal 5-12 Maulud
setiap tahun. Inilah yang membedakan perayaan upacara sekaten di Surakarta
dengan upacara sekaten di Yogyakarta. Upacara sekaten di Surakarta lebih lama
dibandingkan dengan di Yogyakarta. Perayaan upacara sekaten di Surakarta
mengacu pada kesepakatan Giyanti dimana disepakati bahwa upacara sekaten akan
terus dilanjutkan seperti yang sudah menajadi tradisi sejak kerajaan Demak.
Upacara sekaten di Surakarta dimulai dengan memainkan gamelan serta sampai
terakhir iring-iringan gunungan yang berisi makanan yang akan dibagikan kepada
masyarakat.
Perpaduan Unsur Agama Hindu dengan Agama
Islam terhadap Upacara Sekaten
Ada
beberapa versi mengenai akulturasi kepercayaan Jawa seperti Hindu-Buddha dengan
agama islam. Adapun versi yang berpendapat bahwa sekaten secara historis telah
dikenal sejak zaman kekuasaan kerajaan Majapahit. Menurut Purwodarminta
mengatakan bahwa pada masa kerajaan Hindu raja-raja Jawa menyelenggarakan
upacara raja Raja Medha atau Raja Wedha. Upacara ini dilaksanakan setahun
sekali. (1937 : 516).
Pada masa itu, makna dan perayaan
upacara sekaten mengacu pada sedekah raja untuk keselamatan kerajaan dan rakyat
namun semenjak agama islam masuk sekaten digantikan dengan arti syahdatain pada
massa kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam pertama. Perubahan dalam
makna dan asal kata sekaten dari zaman kerajaan Majapahit hingga Demak
mengakibatkan perubahan terhadap tradisi tersebut.
Perayaan
upacara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta adalah bentuk perpaduan kebudayaan
Hindu-Jawa dengan kebudayaan Islam. Hubungan antara budaya Jawa dan Islam
merupakan perpaduan kebudayaan dalam bentuk perayaan upacara sekaten. Dengan
menampilkan gamelan hasil budaya masyarakat Jawa yang saat itu masih
dipengaruhi oleh agama Hindu dengan masuknya agama islam maka gamelan masyarkat
Jawa berubah dengan isi makna dan serta sifatnya menjadi tuntunan agama islam.
Keberadaan
Gamelan Sekaten yang berada di lingkungan Masjid Agung tepatnya di daerah
Surakarta, merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan kesakralan Grebeg
Maulud. Hal ini yang menjadi bagian dari Ritual Sekaten yang berarti perpaduan
antara dari gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari dengan ritual
islam yang dilakukan oleh umat di Masjid Agung. Keberadaan gamelan sekaten di
Surakarta, yaitu gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari tidak
dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena mempunyai makna saling
berkaitan.
Proses
akulturasi berjalan secara bertahap. contohnya melalui perkawinan, Grebeg
Sekaten dan upacara lainnya. Keberadaan agama islam khususnya di tanah Jawa
berkaitan erat dengan akulturasi sebagai warisan sejarah. Penyebaran agama
islam di seluruh Jawa dan kemudian ke kepulauan lain di Indonesia, dilakukan
oleh mereka para ulama yang tergabung dalam Walisango. Salah satunya Sunan
Kalijaga, seorang ulama yang sakti dan cerdas, budayawan yang santun dan
seniman yang hebat. Dakwah Sunan Kalijaga dalam penyebaran Agama Islam dengan
pendekatan sosial budaya.
Berkaitan
dengan spritual masyarakat Jawa, Islam dan kultur Jawa sebagai proses
akulturasi kebudayaan yang mudah diterima oleh Masyarakat Jawa. Bahkan secara
ekstrim ada yang berpendapat bahwa islam dalam masyarakat Jawa telah mengalami
proses Penjawaan yaitu proses penyesuaian ajaran agama islam dengan kultur
Jawa.
Sunan
kalijaga tidak membongkar kebudayaan yang ada lalu mengganti dengan yang baru,
sebaliknya mengisi ruang budaya untuk keperluan dakwah ajaran agama islam.
Semua aktivitas budaya dan seni wadahnya tidak diubah, hanya di isi dengan
ajaran agama islam. Oleh Sunan Kalijaga, wayang kulit sebagai wadah bagi dakwah
tasawuf, sedangkan gamelan difungsikan untuk mendorong tumbuhnya rasa menarik
masyarakat.
Salah
satu contoh lain tentang akulturasi cara berpakaian untuk wanita yang mengalami
perkembangan sesuai ajaran agama islam. Wanita yang semula berpakaian sebatas
menutup sebagian badannya yang menggunakan kemben, diperintahkan berpakaian
yang menutupi seluruh badannya samapai aurat berdasarkan isalam dengan
menggunakan kebaya.
Islamisasi
di Jawa memiliki keunikan dimana islam hadir bukan di lingkungan masyarakat
sederhana dengan sedikit kebudayaan, akan tetapi berjumpa dengan masyarakat
yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang majemuk. Akulturasi keagamaan dan
kebudayaan sebelumnya antara Hindu-Budha melahirkan kebudayaan yang
mempengaruhi spritual masyarakat sebelum kedatangan islam.
Proses
islamisasi di Jawa pada dasarnya melalui proses dialog, sedangkan didaerah lain
dengan proses integrasi misalnya di daerah Kerajaan Pasai dan di Malaka.
Unsur-unsur Islam dapat diterima dan dikembangkan dalam konsep sesuai ajaran
agama islam dengan cara menyesuaikan dengan unsur tradisi sebelumnya. Di lain
masyarakat Jawa pada dasarnya memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap
ajaran, konsep dan sistem nilai serta moralitas yang dibawa oleh Islam melalui
proses dialog dan cara integrasi. Ajaran agama islam memuat sendi-sendi akidah,
syariat, dan akhlaq.
KESIMPULAN
Perayaan
upacara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta adalah bentuk perpaduan kebudayaan
Hindu-Jawa dengan kebudayaan Islam. Hubungan antara budaya Jawa dan Islam
merupakan perpaduan kebudayaan dalam bentuk perayaan upacara sekaten. Dengan
menampilkan gamelan hasil budaya masyarakat Jawa yang saat itu masih
dipengaruhi oleh agama Hindu dengan masuknya agama islam maka gamelan masyarkat
Jawa berubah dengan isi makna dan serta sifatnya menjadi tuntunan agama islam.
Sumber:
http://fuadazhar1ea10.blogspot.co.id/2015/01/tugas-karya-ilmiah-ilmu-budaya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar