Jumat, 20 November 2015

PERBANDINGAN PERAYAAN UPACARA SEKATEN DI YOGYAKARTA DAN SURAKARTA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah ini membahas tentang perbandingan perayaan upacara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta, diharapkan dapat memberi pengetahuan dan menambah wawasan bagi siapapun yang membaca makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan saran, maupun masukan-masukan guna penyempurnaan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.
Akhir kata, kami meminta maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami akan berupaya selalu terbuka dan seobjektif mungkin terhadap kritik dan saran yang membangun guna mempertimbangkan di masa-masa yang akan datang.

 Perayaan Upacara Sekaten di Daerah yogyakarta
Upacara sekaten di daerah Yogyakarta diadakan di halaman Masjid Agung dan di Alun-alun Utara Yogyakarta. Upacara sekaten dimulai pada malam hari dimana dua gamelan yang akan ditabuh pada perayaan upacara sekaten dikeluarkan dari tempat penyimpanan di Bangsal Sri Manganti oleh abdi dalem dan pasukan keraton. Untuk mengeluarkan gamelan tersebut dilakukan suatu upacara spiritual dan harus melaksanakan syarat untuk melakukan spritual. Konon apabila syaratnya tidak dilaksanakan maka kedua gamelan tersebut tidak bisa bunyi sewaktu ditabuh. Kedua gamelan tersebut adalah Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Seperti diketahui bahwa semua benda pusaka atau keramat yang ada di keraton Yogyakarta akan mempunyai cerita mistik.
Gamelan Kyai Guntur Madu ditempatkan disebelah selatan Masjid dan Kyai Notowilogo ditempatkan disebelah Utara halaman masjid. Kedua gamelan tersebut akan dimainkan selama upacara sekaten berlangsung. Pada siang hari sampai selesai, sebagai rasa bersyukur atas terselenggarakannya acara sekaten maka diadakan acara membrikan makanan dan hasil bumi yang berupa Gunungan untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir di acara sekaten. gunungan tersebut terdapat 2 jenis yaitu Gunungan Jaler(laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan). Masyarakat sampai saat ini masih percaya bahwa bagian dari gunungan tersebut akan bisa memberikan berkah.

 Perayaan Upacara Sekaten di Daerah Surakarta Kota Solo
Perayaan upacara sekaten di daerah Surakarta berlangsung bersamaan dengan perayaan upacara sekaten di Yogyakarta pada bulan Maulud setiap tahunnya. Upacara dimulai dengan mengeluarkan 2 gamelan dari tempat penyimpanan Bangsal Srimanganti. Lalu gamelan dibawa dengan dikawal oleh para abdi dalem dan prajurit keraton. Kalau di keraton Surakarta, kedua gamelan bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Kedua gamelan diletakkan di halaman Masjid Agung Surakarta masing-masing di sebelah Utara dan Selatan. Gamelan dimainkan selama berlangsungnya upacara sekaten. Selama berlangsungnya upacara sekaten, banyak sekali masyarakat dari berbagai daerah sekitar Solo, yaitu Sukoharjo, Wonogiri, Sragen.
Upacara sekaten di keraton Surakarta dilaksanakan bulan Maulud dari tanggal 5-12 Maulud setiap tahun. Inilah yang membedakan perayaan upacara sekaten di Surakarta dengan upacara sekaten di Yogyakarta. Upacara sekaten di Surakarta lebih lama dibandingkan dengan di Yogyakarta. Perayaan upacara sekaten di Surakarta mengacu pada kesepakatan Giyanti dimana disepakati bahwa upacara sekaten akan terus dilanjutkan seperti yang sudah menajadi tradisi sejak kerajaan Demak. Upacara sekaten di Surakarta dimulai dengan memainkan gamelan serta sampai terakhir iring-iringan gunungan yang berisi makanan yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Perpaduan Unsur Agama Hindu dengan Agama Islam terhadap Upacara Sekaten
Ada beberapa versi mengenai akulturasi kepercayaan Jawa seperti Hindu-Buddha dengan agama islam. Adapun versi yang berpendapat bahwa sekaten secara historis telah dikenal sejak zaman kekuasaan kerajaan Majapahit. Menurut Purwodarminta mengatakan bahwa pada masa kerajaan Hindu raja-raja Jawa menyelenggarakan upacara raja Raja Medha atau Raja Wedha. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali. (1937 : 516).
            Pada masa itu, makna dan perayaan upacara sekaten mengacu pada sedekah raja untuk keselamatan kerajaan dan rakyat namun semenjak agama islam masuk sekaten digantikan dengan arti syahdatain pada massa kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam pertama. Perubahan dalam makna dan asal kata sekaten dari zaman kerajaan Majapahit hingga Demak mengakibatkan perubahan terhadap tradisi tersebut.
Perayaan upacara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta adalah bentuk perpaduan kebudayaan Hindu-Jawa dengan kebudayaan Islam. Hubungan antara budaya Jawa dan Islam merupakan perpaduan kebudayaan dalam bentuk perayaan upacara sekaten. Dengan menampilkan gamelan hasil budaya masyarakat Jawa yang saat itu masih dipengaruhi oleh agama Hindu dengan masuknya agama islam maka gamelan masyarkat Jawa berubah dengan isi makna dan serta sifatnya menjadi tuntunan agama islam.
Keberadaan Gamelan Sekaten yang berada di lingkungan Masjid Agung tepatnya di daerah Surakarta, merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan kesakralan Grebeg Maulud. Hal ini yang menjadi bagian dari Ritual Sekaten yang berarti perpaduan antara dari gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari dengan ritual islam yang dilakukan oleh umat di Masjid Agung. Keberadaan gamelan sekaten di Surakarta, yaitu gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena mempunyai makna saling berkaitan.
Proses akulturasi berjalan secara bertahap. contohnya melalui perkawinan, Grebeg Sekaten dan upacara lainnya. Keberadaan agama islam khususnya di tanah Jawa berkaitan erat dengan akulturasi sebagai warisan sejarah. Penyebaran agama islam di seluruh Jawa dan kemudian ke kepulauan lain di Indonesia, dilakukan oleh mereka para ulama yang tergabung dalam Walisango. Salah satunya Sunan Kalijaga, seorang ulama yang sakti dan cerdas, budayawan yang santun dan seniman yang hebat. Dakwah Sunan Kalijaga dalam penyebaran Agama Islam dengan pendekatan sosial budaya.
Berkaitan dengan spritual masyarakat Jawa, Islam dan kultur Jawa sebagai proses akulturasi kebudayaan yang mudah diterima oleh Masyarakat Jawa. Bahkan secara ekstrim ada yang berpendapat bahwa islam dalam masyarakat Jawa telah mengalami proses Penjawaan yaitu proses penyesuaian ajaran agama islam dengan kultur Jawa.
Sunan kalijaga tidak membongkar kebudayaan yang ada lalu mengganti dengan yang baru, sebaliknya mengisi ruang budaya untuk keperluan dakwah ajaran agama islam. Semua aktivitas budaya dan seni wadahnya tidak diubah, hanya di isi dengan ajaran agama islam. Oleh Sunan Kalijaga, wayang kulit sebagai wadah bagi dakwah tasawuf, sedangkan gamelan difungsikan untuk mendorong tumbuhnya rasa menarik masyarakat.
Salah satu contoh lain tentang akulturasi cara berpakaian untuk wanita yang mengalami perkembangan sesuai ajaran agama islam. Wanita yang semula berpakaian sebatas menutup sebagian badannya yang menggunakan kemben, diperintahkan berpakaian yang menutupi seluruh badannya samapai aurat berdasarkan isalam dengan menggunakan kebaya.
Islamisasi di Jawa memiliki keunikan dimana islam hadir bukan di lingkungan masyarakat sederhana dengan sedikit kebudayaan, akan tetapi berjumpa dengan masyarakat yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang majemuk. Akulturasi keagamaan dan kebudayaan sebelumnya antara Hindu-Budha melahirkan kebudayaan yang mempengaruhi spritual masyarakat sebelum kedatangan islam.
Proses islamisasi di Jawa pada dasarnya melalui proses dialog, sedangkan didaerah lain dengan proses integrasi misalnya di daerah Kerajaan Pasai dan di Malaka. Unsur-unsur Islam dapat diterima dan dikembangkan dalam konsep sesuai ajaran agama islam dengan cara menyesuaikan dengan unsur tradisi sebelumnya. Di lain masyarakat Jawa pada dasarnya memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap ajaran, konsep dan sistem nilai serta moralitas yang dibawa oleh Islam melalui proses dialog dan cara integrasi. Ajaran agama islam memuat sendi-sendi akidah, syariat,  dan akhlaq.


KESIMPULAN
Perayaan upacara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta adalah bentuk perpaduan kebudayaan Hindu-Jawa dengan kebudayaan Islam. Hubungan antara budaya Jawa dan Islam merupakan perpaduan kebudayaan dalam bentuk perayaan upacara sekaten. Dengan menampilkan gamelan hasil budaya masyarakat Jawa yang saat itu masih dipengaruhi oleh agama Hindu dengan masuknya agama islam maka gamelan masyarkat Jawa berubah dengan isi makna dan serta sifatnya menjadi tuntunan agama islam.


Sumber: http://fuadazhar1ea10.blogspot.co.id/2015/01/tugas-karya-ilmiah-ilmu-budaya.html